Buku Saku Perzakatan
Keywords:
Zakat, Badan Amil ZakatSynopsis
Sejarah panjang peradaban Islam yang pernah mengalami kejayaan, dan kemudian mengalami penurunan pengaruh dalam arti nilai keagamaan ataupun nilai sosial, Islam masih mempunyai kelestarian nilai keagamaan dan nilai sosial yang integratif. Nilai integratif tersebut bahkan menjadi sangat khas dan menjadi keunggulan ajaran Islam sebagai agama yang berdimensi vertikal (ketuhanan) dan horisontal (kemanusiaan). Nilai integratif terwujud dalam sumberdaya keuangan publik Islam yang dapat dieksplorasi dari masyarakat muslim yang meliputi tiga aspek yaitu Zakat, Infaq, dan Shadaqah. Menurut Chapra, zakat bukan pengganti skema pembiayaan mandiri sebagaimana yang dibuat dalam masyarakat modern (social welfare) untuk menyediakan perlindungan jaminan sosial terhadap pengangguran, kecelakaan, usia tua maupun kesehatan, melalui pengurangan gaji pegawai, dan kontribusi orang yang memberikan pekerjaan. Tapi zakat merupakan instrumen religius dan berdimensi humanis. Yusuf Qordhowi juga menjelaskan dengan adanya syariat Islam yang mewajibkan wajib zakat kekayaan, seperti ternak, perdagangan dan uang, telah mendahului kaum sosialis dan kaum-kaum lainnya agar dipungut pajak atas kekayaan. Dari beberapa pandangan tersebut di atas menunjukkan bahwa zakat merupakan instrumen luhur dan orisinil dari ajaran Islam dibandingkan yang mempunyai keunggulan sistem yang serupa dengan zakat dalam konteks beragama ataupun bermasyarakat. Zakat pula dapat dijadikan sebagai media dakwah Islam kontemporer yang memberikan bukti nyata dalam bantuan sosial kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) dalam berbagai program seperti bantuan yang bersifat tunai dan non tunai. Untuk dapat mewujudkan dana-dana ZIS yang tepat sasaran dan akuntabel dari sisi keuangan, maka lembaga zakat seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjadi bagian yang sangat strategis dalam mewujudkan Islam yang integratif antara dimensi religius dan humanis.
References
A. Syalabi, Masyarakat Islam, alih bahasa Muchtar Yahya, Jakarta: Jaya Murni, 1961.
A.A. Islahi, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyyah, alih bahasa Anshari Thayib, Surabaya: Bina Ilmu, 1997.
Abdullah bin Ahmad bin Qadâmah, Al-Mughnî, Beirut: Dâr al-Fikr, 1405 H, Juz II.
Abdurrahman Al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Surabaya: Al-Izzah, 1996.
Abdurrahman bin Ahmad bin Rojab al-Hanbalî, Al-Istikhrâj Liahkâm al-Kharâj, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Alamiyah, 1405 H, Juz I.
Arif Hartono, “Optimalisasi Peran Zakat Sebagai Instrumen Pembangunan Umat”, Jurnal Ekonomi, Volume II, No. 7, Yogyakarta, FE UII, 1996.
Amrullah Ahmad dkk. (peny.), Islamisasi Ekonomi, alih bahasa Wardah Hafidz dkk., Yogyakarta: PLP2M, 1985.
Anonim, Mengapa Perlu Memungut Pajak Jizyah? (online), tanpa tanggal, http://www.indonesia. faithfreedom.org.
Atabik ‘Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus ‘Arab Indonesia Al-‘Ashri, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2003.
Hendra Sutisna, Fundraising Database, Depok: tnp., 2006.
Ibrâhîm bin Muhammad bin ‘Abdullah al-Hanbalî, al-Mabda’, Beirut: al-Maktabah al-Islâmî, 1400 H, Juz I.
Imam Abi Abdillah al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî, Bâb az-Zakât, Surabaya: Maktabah Mahkota, tt.), Juz I.
Jamaluddin Ibn Mandlur, Lisân al-‘Arab, Beirut: Dâr ash-Shâdir, 1997 M/1417H, Juz XIV.
Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa (online), “Nishab Dan Kadar Zakat”, 24 Februari 2012, http://zakat.or.id
M. Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, alih bahasa M. Mustaqiem, Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1997.
M. Abdul Mujieb dkk., Kamus Istilah Fiqh, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
M. Umer Chapra, The Future of Economics: An Islamic Perspective, alih bahasa Amdiar dkk., Jakarta: SEBI, 2001.
Mahamoud A. Gulaid (ed.), Reading in Public Finance in Islam, Jeddah: Islamic Research and Training Institute, 1995.
Mahamoud Gulaid (ed.), Qirâ’ah Fî al-Mâliyah Fî al-Islâm, Jeddah: Islamic Research and Training Institute, 1995.
Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1988.
Muhammad Syamsuddin al-Haq al-’Adlim Abâdi, ‘Aun al-Ma’bûd, Beirût: Dâr al-Kutub al-’Alamiyah, 1415 H, Juz VIII.
Najmân Yâsin, Tathûr al-Audhâ’i al-Iqtishâdiyah fi Ashr ar-Risâlah wa ar-Râsyidîn, ttp.: Bait al-Mausul, 1988.
Nukthoh Arfawie Kurdi, Memungut Zakat dan Infaq Profesi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Quthb Ibrahim Muhammad, Kebijakan Ekonomi Umar bin Khaththab, alih bahasa A. Syarifuddin Shaleh, Jakarta: Pustaka Azzam, tt.
T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat, Jakarta: Bulan Bintang, 1990.
Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Amwâl fi Daulah al-Khilâfah, Beirut: Dâr al-Bayâriz, 1983.
Taqiyuddin an-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam, alih bahasa Maghfur Wahid, Surabaya: Risalah Gusti, 1999.
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1992.
Wahbah az-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuh, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1405 H/1985 M), Jilid II.
Yusuf al-Qordhowi, Fiqh Zakat, alih bahasa Salman Harun dkk., cet. Ke-6, Jakarta: Pustaka Lentera Antarnusa, 2002.







